Manusia dan Matematika

Oleh A Halim Fathani

Mengapa harus belajar matematika? Sulit dijawab karena imej matematika telanjur “negatif”.
Banyak siswa yang mengikrarkan diri untuk berpisah dengan matematika, karena menganggap matematika adalah ilmu yang bikin stres, pusing, tidak berguna.

Biasanya ini dilontarkan oleh anak yang mulai memasuki kehidupan SMA. Mungkin karena anak telah menemui titik jenuh belajar matematika, juga karena tidak paham dengan tujuan mempelajari matematika.
Untuk menepis persepsi negatif sebagaimana di atas, seyogianya dalam proses pembelajaran matematika, ditekankan penanaman pemahaman tentang mengapa muncul ilmu matematika, mengapa harus belajar matematika, dan tujuan belajar matematika itu seperti apa?

Sesuai dengan teori belajar Gestalt, dalam pembelajaran matematika perlu ada penekanan atau pemahaman mengenai gambaran belajar matematika secara keseluruhan, baru kemudian dilanjutkan dengan belajar matematika lebih rinci. Pemikiran sempit selama ini bahwa matematika hanya bidang ilmu yang selalu berhubungan dengan angka dan membuat kepala menjadi pusing harus dibuang jauh-jauh karena penalaran juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam menguasai matematika.

Bila betul-betul ingin meningkatkan kemampuan bangsa di bidang teknologi di masa depan, maka tidak boleh ada anak muda yang buta matematika. Memang, tidak semua siswa berminat menjadi ahli matematika, ahli sains, atau ahli teknologi. Akan tetapi, suatu masyarakat hanya akan berhasil mengembangkan kemampuan teknologi cukup tinggi bila di masyarakat ada lapisan-lapisan penduduk dengan tingkat pemahaman matematika dan ilmu pengetahuan alam yang beragam, mulai dari kemampuan sederhana hingga yang bersifat apresiatif. [ahf]