Matematika dan Kitab Kuning

Oleh A Halim Fathani Yahya

Institusi Pendidikan di Indonesia secara umum dapat digolongkan menjadi tiga, yakni 1) lembaga pendidikan umum, seperti SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi umum; 2) lembaga pendidikan agama, seperti pondok pesantren; dan 3) gabungan di antara keduanya, seperti MI, MTs, MA, Perguruan Tinggi Agama. Kebanyakan masyarakat di sekeliling kita memandang bahwa anak didik yang belajar di pondok pesantren pasti akan mahir dalam membaca dan memahami kitab kuning (sekaligus bahasa Arab). Sedangkan anak didik yang belajar di pendidikan umum, maka masyarakat cenderung melihat ukuran pandai tidaknya anak didik adalah dilihat dari seberapa kemampuan ia memahami bidang pelajaran umum, terutama matematika. Sedangkan anak didik yang belajar di lembaga gabungan keduanya, secara otomatis dituntut untuk mahir di bidang ilmu umum (baca: matematika) dan ilmu agama terutama bahasa Arab (baca: Kitab Kuning).

Anggapan masyarakat tersebut tidak sepenuhnya salah juga tidak selamanya benar. Kita ketahui, memang kalau anak didik itu memiliki kemampuan matematika yang tinggi, dapat dipastikan untuk mempelajari disiplin ilmu yang lain akan dapat dicapai dengan mudah. Andi Hakim Nasution (1980: 12) menyatakan bahwa istilah matematika berasal dari bahasa Yunani “mathein” atau “manthenein” yang berarti “mempelajari” atau ilmu tentang berpikir. Selain tersebut di dalam matematika juga didominasi oleh aspek logika berpikir, sehingga dengan mahir di bidang matematika diharapkan kita memiliki logika dalam berpikir yang bagus yang dapat dijadikan sebagai modal mempelajari ilmu-ilmu yang lain secara gampang.

Begitu juga dengan kemampuan bahasa Arab. Kita lihat, bahwa al-Qur’an dan al-Hadits yang merupakan dasar bagi umat Islam adalah menggunakan bahasa Arab, kitab-kitab agama yang banyak dijadikan oleh para ulama’, tokoh Muslim, dan intelektual Muslim semuanya menggunakan bahasa Arab. Dengan demikian maka sudah sewajarnya jika kita ingin memahami “Islam” secara mendetail (baca: kaffah) maka harus mahir di bidang bahasa Arab atau secara gampangnya harus mampu membaca kitab kuning.

Hemat penulis, jikalau kita menginginkan untuk mumpuni di bidang ilmu-ilmu agama maka kita harus dapat memahami kandungan al-Qur’an dan al-Hadits termasuk juga yang ditulis dalam kitab-kita kuning yang ditulis menggunakan bahasa Arab. Oleh karenanya, jika ingin mahir di bidang ilmu agama maka kemampuan bahasa Arab harus dimiliki dan terus ditingkatkan.

Begitu juga, jikalau kita menginginkan untuk memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maka sudah semestinya kita juga harus memahami bahasa pengantarnya. Matematika merupakan ilmu dasar dari segala ilmu pengetahuan dan teknologi (basic of science). Bahasa matematika merupakan bahasa simbol. Oleh karenanya, jika kita menginginkan mudah alam memahami ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita harus mumpuni di bidang bahasa yang digunakan, bahasa simbol (baca: bahasa matematika).

Namun, di sisi lain sebenarnya ada juga ilmu-ilmu agama yang memiliki bahasa pengantar dengan bahasa simbol, seperti ilmu faraidh, ilmu perhitungan zakat, perhitungan waktu shalat, dan sebagainya. Untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, juga ada yang ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Walhasil, pemisahan bahasa Arab untuk ilmu agama dan matematika untuk ilmu umum secara tegas, sebenarnya suatu hal yang tidak perlu dilakukan.

Yang penting adalah, dalam memahami suatu ilmu, maka kita dituntut untuk menguasai bahasa pengantar yang digunakan. Dengan demikian, akan terjadi pembicaraan (baca: pemahaman) yang komunikatif antara yang belajar dengan materi yang dipelajari.[]