Tradisi Baca di Kampung Saya

Oleh A Halim Fathani Yahya

Sudah lama saya tinggal di kampung Merjosari Kota Malang, tepatnya di Jalan Joyoraharjo. Lima tahun yang lalu saya tinggal di “kos” bersebelahan dengan Mushallla Wardatul Ishlah. Ada yang menarik! Sejak saya tinggal di tempat tersebut hingga sekarang –dan mungkin hingga waktu yang tak terbatas, ada satu tradisi yang baik untuk dipelihara dan dikembangkan. “Membaca”.

Hari Minggu, oleh kebanyakan orang –apalagi masyarakat perkotaan biasanya digunakan untuk bersenang-senang bersama keluarga untuk jalan-jalan atau pergi ke tempat wisata dalam rangka menghilangkan stress selama satu minggu penuh bekerja di kantor atau di tempat lainnya. Tapi, hal ini tidak berlaku bagi warga di kampung saya yang kebanyakan bekerja sebagai pedagang kaki lima “jalanan”. Di hari Minggu, ada yang libur dan ada yang tetap berjualan: bakso, soto ayam, sate kambing, dll.

Bagi yang libur, mereka berkumpul di mushalla sebelah “kos” saya untuk melakukan tradisi rutin, tadarrus al-Qur’an. Kadang juga mendapat undangan untuk mengaji di rumah tetangga, jika ada selamatan, khitanan, nikahan, acara haji, dan sebagainya. Orang-orang yang aktif dalam kegiatan ini dikumpulkan dalam satu wadah yang bernama “Jamaah Khatmul Qur’an Wardatul Ishlah”. Sungguh tradisi yang baik dan harus dipelihara keberadaannya.

Memang, membaca al-Qur’an selain mendapat ganjaran, kita akan memperoleh informasi mengenai kandungan ayat al-Qur’an. Apalagi, jika tradisi membaca al-Qur’an ini juga dibarengi dengan tradisi memahami isi dan kandungan al-Qur’an, lalu kita dapat mengamalkan kandungan di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain membaca al-Qur’an, ternyata tradisi yang tak kalah bagusnya adalah, di sela-sela membaca al-Qur’an, sebagian jamaah yang pas tidak giliran membaca al-Qur’an, mereka membaca informasi yang ada dalam koran yang diterbitkan pada hari Minggu itu. Kebiasaan membaca Koran ini juga harus kita apresiasi sebagai kegiatan yang positif. Dengan membaca koran, maka kita dapat mengikuti informasi terbaru.

Membaca al-Qur’an dimulai dari sebelah kanan, sedangkan membaca koran dimulai dari sebelah kiri. Jika ini benar-benar ditradisikan dan dijaga kelangsungannya, maka kesehatan mata kita akan terjaga, karena terjadi keseimbangan antara mata kanan dan mata kiri. Di sisi lain, kita memperoleh informasi ganda, mendapatkan informasi “dunia” sekaligus memperoleh informasi “akhirat”. Sungguh, tradisi yang baik yang perlu mendapat dukungan dari pihak mana pun.

Hemat saya tidak ada salahnya, jika di sela-sela kita melakukan khatmul qur’an, lalu kita juga membaca koran sebagai sumber informasi. Tantangannya adalah bagaimana kita dapat membaca al-Qur’an dengan penuh makna dan membaca koran dengan penuh kritis. Al-Qur’an dan Koran adalah dua “bahan bacaan” yang memiliki banyak nilai manfaat. Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar.

Apabila kita tidak ingin tergilas oleh arus kecepatan informasi, maka jawabannya adalah harus rajin membaca, membaca, dan membaca! Membaca apa saja, yang penting bermanfaat. Iqra’ Bismirabbikalladzi khalaq! [ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *